Strategi Cerdas Kelola Riayah Masjid Tanpa Kuras Kas Operasional
Strategi Cerdas Kelola Riayah Masjid Tanpa Kuras Kas Operasional
JAKARTA — Pengurus Kemakmuran Masjid (DKM) di berbagai daerah hingga kini masih sering dihadapkan pada tantangan klasik terkait ketersediaan anggaran operasional. Besarnya biaya perawatan dan pemeliharaan fasilitas fisik ( riayah ) kerap menjadi beban berat yang menguras kas utama masjid. Mengatasi permasalahan mendasar tersebut, Sentra Masjid yang kantor pusatnya di Lampung akan menggelar ajang edukasi bertajuk Webinar Masjid Mandiri Series dengan mengusung tema "Strategi Cerdas Mengelola Riayah Masjid Tanpa Membebani Kas" yang akan dilaksanakan secara daring melalui paltform Zoom Meeting pada hari Sabtu, 24 Oktober 2026, Jam 20.00 WIB sampai selesai.
Kegiatan ini akan menghadirkan narasumber ahli di bidang pengelolaan kemasjidan, yaitu Gus Isqowi — Dr. (HC) HRT. Isqowi Indaddien Masya, MM, CDAI. Beliau merupakan praktisi kemasjidan berpengalaman sejak tahun 1998 hingga sekarang dan saat ini aktif berkiprah di jajaran Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Banten. Kehadiran beliau dirancang khusus untuk memberikan wawasan komprehensif serta solusi taktis bagi para pengelola masjid agar kenyamanan ibadah jamaah tetap terjaga optimal tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan organisasi.
Gus Isqowi akan menyampaikan tentang pentingnya melakukan reorientasi pandangan terhadap konsep riayah masjid. Pemeliharaan masjid hendaknya tidak lagi dipersepsikan secara sempit sebatas aktivitas kebersihan rutin seperti menyapu atau mengepel lantai. Lebih dari itu, riayah merupakan manajemen perawatan aset secara menyeluruh yang mencakup pencegahan kerusakan, pemeliharaan sarana sanitasi, pengondisian udara, hingga tata kelola tata ruang ibadah yang aman dan kondusif.
Selama ini, kendala utama membengkaknya anggaran riayah disebabkan oleh pola pemeliharaan yang bersifat reaktif. Pengurus masjid pada umumnya baru melakukan perbaikan ketika sarana atau fasilitas mengalami kerusakan parah. Pola penanganan mendadak ini terbukti membutuhkan alokasi dana perbaikan yang jauh lebih besar dibandingkan jika DKM menerapkan sistem perawatan berkala ( preventive maintenance ).
Untuk menekan laju pengeluaran kas, pengurus masjid disarankan mulai menerapkan skala prioritas dalam perawatan fasilitas. Alokasi dana dan perhatian utama wajib didahulukan untuk fasilitas vital yang berdampak langsung pada keabsahan dan kenyamanan ibadah, seperti kebersihan area wudhu, kelayakan toilet, serta kesucian ruang utama shalat. Setelah kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, pengurus baru dapat mengalihkan fokus pada fasilitas pendukung seperti optimalisasi sound system, pendingin udara, hingga perbaikan estetika bangunan.
Selain penataan skala prioritas, efisiensi biaya operasional harian juga menjadi kunci penting. Langkah nyata yang dapat diterapkan antara lain melakukan penghematan energi listrik dan air melalui penggunaan teknologi ramah lingkungan, seperti lampu hemat energi serta sistem keran otomatis. Pengurus juga dapat mengatur jadwal pengoperasian perangkat elektronik secara disiplin agar sesuai dengan waktu penggunaan masjid.
Langkah paling strategis untuk membebaskan kas masjid dari beban riayah adalah dengan menggalang partisipasi aktif jamaah. DKM tidak hanya menghimpun bantuan dalam bentuk uang tunai, tetapi juga membuka ruang bagi jamaah untuk bersedekah dalam bentuk barang operasional, bantuan tenaga, maupun keahlian profesional. Jamaah yang memiliki latar belakang sebagai teknisi, tukang, atau ahli listrik dapat dilibatkan secara berkala untuk merawat sarana masjid secara sukarela.
Melalui formulasi program riayah yang hemat, terukur, dan berkelanjutan, masjid diharapkan mampu tumbuh menjadi lembaga yang mandiri secara finansial. Pengelolaan fasilitas yang cerdas ini tidak hanya menjamin keberlangsungan fungsi masjid sebagai pusat ibadah yang nyaman, tetapi juga menjaga ketersediaan kas utama agar dapat dialokasikan bagi program-program pemberdayaan umat dan sosial kemasyarakatan lainnya.
Related Articles