Berdiri Sejak 1984, Pengajian Kaum Adam Parakan Kembali Satukan 9 Majlis Taklim dalam Satu Barisan
Menjalit Kembali Bintang yang Tercecer: Reuni Spiritual 42 Tahun Pengajian kaum Adam Parakan
PARAKAN, PAMULANG — Ada helatan sejarah yang tak ditulis dengan tinta di atas kertas, melainkan diukir dalam detak dada para pencinta Al-Qur'an. Di bumi Parakan, Kelurahan Pondok Benda, Pamulang, gerak spiritual itu berawal sejak empat dekade lalu, persisnya pada tahun 1984. Kala itu, sebuah peradaban kecil bermula dari lantunan Pengajian Yasin—sebuah pengajian bersama yang perlahan tumbuh, berakar menghujam tanah, dan kini beranak-pinak menjadi sembilan majlis taklim yang tersebar anggun di dua Wilayah RW Kampung Parakan.
Selasa malam, 13 Oktober 2026, Aula Masjid Al-Furqon Parakan menjadi saksi berlabuhnya kerinduan panjang. Malam itu bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah ikhtiar suci untuk "mengumpulkan kembali yang tercecer"—menjahit helai-helai ukhuwah yang sempat merenggang oleh waktu, agar kembali bersatu dalam lingkaran pengajian bulanan gabungan.
Suasana aula terasa hangat. Cahaya lampu masjid berpadu dengan ketulusan raut wajah para tokoh ulama, tokoh masyarakat, para ketua RW dan RT, serta jajaran penggerak keummatan yang duduk bersila dalam kesetaraan nurani.

Acara dibuka dengan khidmat. Haji Yuli, Ketua DKM Masjid Al-Furqon, menyampaikan sambutan hangat penuh keikhlasan yang melapangkan dada para hadirin. Disambung pengarahan sarat keilmuan dari H. Saprudin, S.H., mantan Anggota DPRD Tangsel sekaligus khodimul majlis yang tak henti mengompori semangat persatuan warga Parakan.
Dua narasi besar pun bertemu: nostalgia sejarah masa lalu dan asa masa depan. Di bawah panduan Ustadz Rohadi — mantan Ketua DKM Al-Furqon yang bertindak sebagai moderator — ruang dialog bertransformasi menjadi laboratorium gagasan yang dinamis ( brainstorming).
Gelombang pemikiran bermunculan saat membahas mekanisme kepemimpinan. Ada yang menawarkan pembentukan tim formatur, ada yang mengusulkan pola Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), ada yang menginginkan musyawarah mufakat murni, hingga opsi pemilihan langsung. Keragaman sudut pandang ini mencerminkan betapa hidupnya jiwa kearifan lokal warga Parakan.
Namun, di tengah riak gagasan tersebut, kebijaksanaan menemukan muaranya secara alami. Sebuah nama mengemuka tanpa cela, melintasi seluruh sekat perbedaan: Kyai Idris.
Sebagai salah satu sesepuh dan pilar sejarah yang masih tersisa dari generasi awal 1984, nama beliau dihadirkan dengan rasa hormat yang mendalam. Meski malam itu beliau tidak dapat hadir secara fisik karena tengah berada di luar kota, takdir aklamasi menetapkannya secara in absentia. Kyai Idris secara resmi dipercaya dan didaulat untuk menakhodai kapal besar Forum Gabungan Majlis Taklim Sabilut Taqwa Parakan.
Malam semakin larut di Pondok Benda, namun kehangatan di Aula Al-Furqon justru kian membuncah. Kesepakatan telah terikat, lentera tradisi yang disulut sejak 1984 kini kembali bergetar hebat. Di bawah pilar Sabilut Taqwa, warga Parakan kembali menegaskan: bahwa sejauh apa pun ranting bertumbuh, ia takkan pernah melupakan akar; dan sebanyak apa pun majlis berkembang, dalam kebersamaanlah keberkahan itu bermuara. ( Gus Isqowi , Tangerang Selatan 13 Oktober 2026 )
Related Articles