Siapa Bilang Anak Betawi Cuma Sembahyang mengaji? Dua Guru Besar UT Melesat ke Pentas Dunia!

Agenda & Event 06 Aug 2026 11:20 4 min read 109 views By Abah Zea

Share berita ini

Siapa Bilang Anak Betawi Cuma Sembahyang mengaji? Dua Guru Besar UT Melesat ke Pentas Dunia!
Dari Kampung Betawi Menuju Panggung Profesor Dunia.

Siapa Bilang Anak Betawi Cuma Sembahyang Mengaji? Dua Guru Besar UT Melesat ke Pentas Dunia! 

 

Tangerang Selatan — Mitos lama bahwa anak Betawi kerjaannya hanya sembahyang mengaji kini resmi runtuh berkeping-keping. Di Aula Gedung UTCC Universitas Terbuka, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, panggung akademik tertinggi menjadi saksi ketika darah Betawi melesat memeluk takdir keilmuan global.

 

Pada Rabu, 5 Agustus 2026, Universitas Terbuka (UT) mengukir sejarah megah menuju panggung World Class University. Melalui pengukuhan enam profesor baru — dari total 45 Guru Besar yang siap dikukuhkan — UT membuktikan kepakan sayapnya di pentas dunia. Rektor UT, Prof. Ali Muktiyanto,S.E.,M.Si. yang lebih akrab dipanggil Gus Ali dalam kultur interaksi sosial dan pergaulan kesehariannya di luar kampus,  menegaskan bahwa momen ini adalah pembuktian empiris kemajuan sains nasional. Sementara itu, Ketua Senat UT, Prof. Chanif Nurcholis, mengingatkan bahwa jubah profesor merupakan mandat kepercayaan rakyat dan negara untuk terus memproduksi ilmu pengetahuan yang mencerahkan. 

 

Gema Suara Babe Sabeni: Mitos yang Runtuh di Podium Akademik

 

Di antara hingar-bingar perayaan ilmiah tersebut, ada getar kebudayaan yang teramat dahsyat. Cerita lama kerap memojokkan anak Betawi sebagai penonton di tanah kelahirannya sendiri. Namun hari itu, stigma lama resmi runtuh ketika dua dari enam Guru Besar yang dikukuhkan pada gelombang pertama — yakni Prof. Dr. Hj. Juhana, M.Pd. dan Prof. Dr. Yumiati, M.Si. — merupakan akademisi berdarah asli Betawi!

 

Langkah kaki mereka menuju podium bak menggemakan kembali teriakan haru Babe Sabeni dalam kisah ikonik Si Doel Anak Sekolahan sewaktu memanggil sang anak dengan sebutan: "Juragan Insinyur!" Hari ini, kebanggaan itu melompati batasnya. Anak Betawi bukan lagi sekadar insinyur, melainkan telah menjelma menjadi "Juragan Profesor" di panggung akademik tertinggi.

 

Filosofi bersahaja ala Betawi ditunjukkan dengan sangat indah oleh Prof. Dr. Yumiati, M.Si. dalam pidato pengukuhannya: 

 

"Yang penting kerja benar, yang penting manfaat, yang penting kagak nyusahin orang. Allah punya rencana lain yang jauh lebih indah dari yang saya bayangkan..."

 

Refleksi Prof. Yumiati menghadirkan intisari filosofi Betawi yang amat bersahaja: keikhlasan dan kebermanfaatan. Prinsip "kagak nyusahin orang" bertransformasi menjadi energi intelektual yang melesat tinggi di panggung global tanpa pernah kehilangan pijakan akar budayanya.

 

Momen bersejarah ini sekaligus melengkapi jajaran Gelombang I Pengukuhan Guru Besar Universitas Terbuka yang menghadirkan enam akademisi berprestasi: Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D. (Pakar Pembelajaran & Bahasa); Prof. Dr. Hj. Juhana, M.Pd. (Pakar Pedagogy & Humanizing Tech); Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Pd. (Pakar Pendidikan Transformatif); Prof. Dr. Yumiati, M.Si. (Pakar Matematika & Kebermanfaatan); Prof. Made Yudhi Setiani, S.IP., M.Si., Ph.D. (Pakar Ilmu Sosial & Kebijakan); serta Prof. Dr. Milwan, S.Sos., M.Si. (Pakar Administrasi Publik). 

 

Teknologi yang Memanusiakan & Kado Terindah Ulang Tahun ke-57

 

Kepakaran yang disumbangkan dalam orasi ilmiah kali ini pun teramat bernilai. Prof. Dr. Hj. Juhana, M.Pd. menyampaikan pidato pengukuhannya bertajuk "Humanizing English Language Instruction in The Age of Intelligent Technology: From Adaptive Pedagogy to Transformative Learning". Di tengah maraknya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), beliau secara tegas mengingatkan bahwa kemajuan teknologi semestinya hadir untuk memperkaya nilai-nilai kemanusiaan, membangun empati, serta memperkuat komunikasi lintas budaya.

 

Di balik gemerlap selebrasi akademik ini, teranyam kisah kasih yang sangat menyentuh. Pencapaian mahkota keilmuan tertinggi sebagai Profesor ini dipersembahkan oleh Prof. Juhana sebagai kado ulang tahun ke-57 yang paling indah dan tak ternilai harganya bagi suami tercinta, Gus Isqowi, yang sehari sebelumnya merayakan pertambahan usianya. Sebuah persembahan penuh kebanggaan dari sang istri yang mengabadikan tulusnya cinta, dedikasi, serta pengabdian panjang di puncak dunia akademis.

 

Rasa syukur mendalam terpancar dari Gus Isqowi atas capaian sang istri. Bagi beliau, gelar Guru Besar ini bukan sekadar legitimasi akademis di lingkungan kampus, melainkan sebuah amanah moral. Lebih dari sekadar profesor di atas kertas, keberadaan Prof. Juhana diharapkan dapat terus memberikan daya empowering (pemberdayaan), energizing (memberi energi positif), dan enlightenment (pencerahan) di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Sebuah dedikasi nyata yang menjadikan keilmuan bukan hanya bertengger di menara gading, tetapi hadir mengakar dan memancarkan manfaat bagi sesama.

 

"Alhamdulillah, puji dan syukur tak terhingga ke hadirat Allah SWT. Capaian ini adalah kado ulang tahun ke-57 yang sangat indah dan tak ternilai harganya bagi saya," ungkap Gus Isqowi penuh haru. "Harapan saya, Istri saya Prof. Juhana dapat terus menjadi pembawa pencerahan, memberi energi positif, serta memberdayakan masyarakat melalui keilmuannya. Semoga setiap langkah pengabdian ini senantiasa membawa keberkahan dan kebaikan yang seluas-luasnya bagi sesama." 

 

Demikian untaian doa, ucapan syukur, dan harapan tulus yang mengiringi langkah Prof. Dr. Hj. Juhana, M.Pd. di panggung tertinggi akademis. Selamat dan sukses atas pengukuhan sebagai Guru Besar Universitas Terbuka — sebuah persembahan cinta, pengabdian, dan kebanggaan yang menginspirasi.

Tangerang Hari Ini