Guru Besar UIN Jakarta Prof. Hasani Ahmad Said Hadiri Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, Teguhkan Spirit Keislaman dan Kebangsaan

Agenda & Event 03 Aug 2026 16:09 4 min read 138 views By Gus Isqowi

Share berita ini

Guru Besar UIN Jakarta Prof. Hasani Ahmad Said Hadiri Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, Teguhkan Spirit Keislaman dan Kebangsaan
Merajut Doa, Menguatkan Persatuan, Meneguhkan Indonesia.

Guru Besar UIN Jakarta Prof. Hasani Ahmad Said Hadiri Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, Teguhkan Spirit Keislaman, Persatuan, dan Cinta Tanah Air

 

JAKARTA — Senja perlahan menyelimuti kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Di tengah ribuan jamaah yang memadati pelataran ikon ibu kota itu, lantunan ayat suci Al-Qur'an, zikir, selawat, dan doa-doa kebangsaan mengalun khidmat, menyatukan hati anak bangsa dalam satu harapan: Indonesia yang damai, bersatu, dan senantiasa berada dalam limpahan rahmat Allah SWT.

 

Di antara para tokoh agama, ulama, akademisi, dan pemimpin masyarakat yang hadir tampak Prof. Dr. KH. Hasani Ahmad Said, M.A., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua IPIM (Ittihad Persaudaraan Imam Masjid) Kota Tangerang Selatan. 

 

Kehadirannya bukan sekadar memenuhi undangan resmi dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, tetapi juga menjadi simbol keterlibatan aktif kalangan akademisi dan para imam masjid dalam memperkuat fondasi spiritual kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Bagi Prof. Hasani, Indonesia dibangun bukan hanya oleh kecerdasan dan kerja keras, tetapi juga oleh doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan. Karena itulah, zikir dan doa kebangsaan bukanlah seremoni belaka, melainkan ikhtiar batin yang mengiringi setiap langkah pembangunan bangsa. Ketika langit dipenuhi doa dan bumi dipenuhi ikhtiar, di situlah harapan akan lahirnya Indonesia yang lebih bermartabat menemukan jalannya.

 

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia tersebut menghadirkan ribuan peserta dari berbagai unsur masyarakat. Tokoh agama, pimpinan perguruan tinggi, guru besar, santri, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat umum larut dalam suasana kebersamaan. Perbedaan latar belakang tidak menjadi sekat, melainkan menjelma menjadi harmoni yang memperlihatkan wajah Indonesia sesungguhnya — bangsa yang besar karena mampu merawat keberagamannya. 

 

Sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dikenal aktif mengembangkan kajian Islam moderat, kebudayaan, dan kehidupan beragama, Prof. Hasani memandang bahwa perguruan tinggi memiliki amanah besar dalam membentuk karakter bangsa. Kampus tidak cukup hanya melahirkan insan berilmu, tetapi juga harus melahirkan manusia yang berakhlak, memiliki kepekaan sosial, serta mencintai tanah air sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai keislaman.

 

Pandangan tersebut juga sejalan dengan kiprahnya sebagai Ketua IPIM Kota Tangerang Selatan. Melalui organisasi yang menghimpun para imam masjid itu, Prof. Hasani terus mendorong agar masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah mahdhah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan umat, penguatan moderasi beragama, pemberdayaan masyarakat, serta perekat persaudaraan kebangsaan. Baginya, mimbar-mimbar masjid memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai kasih sayang, persatuan, dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Suasana Monas semakin syahdu ketika rangkaian acara memasuki pembacaan zikir bersama dan doa-doa kebangsaan. Ribuan tangan terangkat, jutaan harapan dipanjatkan. Di bawah langit Jakarta, gema selawat berpadu dengan doa lintas agama yang dipimpin para pemuka agama sebagai simbol kerukunan yang telah lama menjadi kekuatan bangsa Indonesia.

 

Momentum itu seakan mengingatkan kembali bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil perjuangan satu golongan semata. Negeri ini berdiri di atas pengorbanan para ulama, santri, pejuang, tokoh agama, cendekiawan, dan seluruh anak bangsa yang datang dari beragam suku, budaya, dan agama. Karena itu, menjaga persatuan merupakan amanah sejarah yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.

 

Dalam pandangan Prof. Hasani, nilai-nilai agama dan kebangsaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya saling menguatkan. Ajaran Islam yang menempatkan kemaslahatan, keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia menjadi landasan kokoh dalam merawat kehidupan berbangsa yang harmonis. Agama menghadirkan cahaya moral, sementara kebangsaan menjadi ruang bersama untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut.

 

Sebagai institusi pendidikan tinggi Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama ini konsisten mengembangkan tradisi akademik yang mengintegrasikan keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan. Kehadiran Prof. Hasani Ahmad Said dalam Zikir dan Doa Kebangsaan menjadi cerminan nyata dari semangat tersebut: menghadirkan Islam yang teduh, moderat, inklusif, dan senantiasa berpihak pada kemaslahatan umat serta keutuhan bangsa.

 

Partisipasi para guru besar, dosen, ulama, imam masjid, dan tokoh masyarakat dalam agenda kebangsaan seperti ini menjadi penegas bahwa membangun Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Ketika ilmu pengetahuan berjalan berdampingan dengan spiritualitas, dan ketika doa mengiringi setiap ikhtiar, maka optimisme terhadap masa depan Indonesia akan terus menyala.

 

Di penghujung acara, ketika malam sepenuhnya menyelimuti Monas, ribuan jamaah meninggalkan lokasi dengan hati yang teduh. Zikir telah usai dilantunkan, doa telah dipanjatkan, namun semangat yang ditinggalkannya diharapkan terus hidup dalam setiap langkah pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara. Sebab Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga jiwa-jiwa yang senantiasa mengingat Allah dan mencintai tanah air dengan sepenuh hati. 

 

Penulis 

Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah.

Tangerang Hari Ini